Bahasa Biak Beteu/Beser

Kali ini saya akan berbagi ilmu tentang bahasa Biak Beteu atau Beser yang merupakan salah satu dialek bahasa Biak. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat suku Biak Beteu yang mendiami beberapa kampung di Pulau Waigeo (Waigio Barat dan Selatan), Pulau Misool, Pulau Mansuar, dan Pulau Gam, di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Seperti di daerah lain di Papua, Raja Ampat memliki beragam suku dan bahasa. Lihat tautan berikut untuk mengetahui suku dan bahasa yang berada di Raja Ampat: http://regional.coremap.or.id/print/article.php?id=608.

Suku Biak Beteu mendiami daerah yang diberi tanda bintang di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat.

Bagi teman-teman yang berencana berlibur ke Raja Ampat, akan terasa lebih keren (dan beken) kalau tahu sedikit bahasa Beser. Meskipun hanya menyapa saja, itu sudah cukup membuat masyarakat lokal tersenyum bangga. Apalagi kalau pucuk (istilah orang lokal yang berarti “bujang”) kan lumayan untuk menambah semangat. Hhee.

Baiklah, kita mulai saja ya.

Bahasa Beser, menurut saya, bahasa lokal yang sangat menarik. Selain intonasinya yang kas, tata bahasanya juga cukup kompleks untuk ukuran bahasa lokal. Seperti kebanyakan bahasa daerah di Papua, kata-kata dalam bahasa Beser sangat menjelimet apabila diucapkan. Teman saya bilang kalau tulisan sama pengucapannya itu sama. Tapi saking menjelimetnya, saya juga binggung mau menulis seperti apa.

Oke, mari kita mulai dengan nomer.

1 = weter

2 = turu

3 = kior

4 = fiak

5 = rim

6 = wonem

7 = fik

8 = war

9 = siu

10 = tanfur

Gampang kan? Saya juga berpikir seperti itu awalnya. Kemudian saya belajar nomer-nomer berikutnya.

11 = tanfur weter mai weter.

12 = tanfur weter mai turu

13 = tanfur weter mai kior .. dan seterusnya

Buset dah, jumlah hurufnya hampir dua kali lipat dari jumlah nomer yang mau disebut. Tapi untungnya nomer jarang digunakan, mereka lebih cendrung menggunakan bahasa Indonesia. Ah.. bisa menarik nafas dengan lega.

Lanjut ke topik salam atau greeting. Kata yang paling manjur kalau mau menyapa adalah “tabya” bisa digunakan untuk menyapa orang di pagi, siang, sore, malam dan salam perpisahan seperti halnya “good night” dalam bahasa Inggris. Aneh memang, kalau di Papua tabya untuk menyapa, kalau di Bali untuk bikin sambal. Kata-kata yang lain untuk menyapa, antara lain:

Tabya = Halo, permisi, selamat malam

Arwo = Selamat pagi

Arkoek = Siang (jarang digunakan. Mereka lebih sering bilang “tabya”)

Mandira = Sore

Rou/malambai = Malam

Oke, sekarang belajar memperkenalkan diri.

Aya ine ido Soma        = Nama saya Soma (Terjemahan harafiah:“Saya ini nama Soma”)

Hno hnon beja ido yo? = Siapa nama Anda?

Ya kain ro Tawinggrai = Saya tinggal di Sawinggrai

Kwain ro dio?             = Anda tinggal di mana?

Ya yaker Bali               = Saya dari Bali

Waker dio?                  = Anda dari mana?

Injo                              = Terima kasih

 

Yang paling menarik adalah tata bahasanya. Bahasa Beser memiliki penjamakan yang berlaku untuk kata tanya dan kata benda. Kata tanya akan mendapat awalan Wa untuk satu orang, mu untuk dua orang, dan mko (dibaca: menggko) untuk tiga orang atau lebih. Contohnya:

Waker dio? Untuk satu orang – Kamu dari mana?)

Mu raker dio? Untuk dua orang- Kalian berdua dari mana?)

Mko raker dio? Untuk tiga orang atau lebih – Kalian bertiga (atau lebih) dari mana?

Untuk kata benda juga memakai penjamakan. Meskipun banyak pengecualian, secara umum kata benda jamak (lebih dari satu) memakai akhiran si. Contohnya:

Burung = Man – tunggal (1 burung) mansi – jamak (lebih dari 1 burung)

Piring = ben – tunggal (1 piring), bensi – jamak (lebih dari satu piring)

Anak- anak – mukunmawa – tunggal (satu anak),  mukanmawasi– jamak (anak-anak)

 

Nah, sudah bisa dasar-dasarnya kan? Nanti tinggal dipraktikan langsung. Ini kata-kata lainnya yang sering saya denger.

Ien – ian

Fat – nasi

Asok – sendok

Inoe – pisau

Laut – laut

Wae – perahu

Rum – rumah

Nofan – anjing

Mau – kucing

Yeyen – pasir

Abor – jembatan

Wayer – air

Selamat belajar dan Injo!

Leave a Reply